Kangker Lidah Merenggut Nyawa Ibuku

Oleh:Jepes

Penderitaan ibu bermula dari sariwan. Di beberapa sisi lidah kiri terdapat bintik-bintik dan agak memerah. Saat itu beliau sedang“menimburi”  (acara adat dari nenek ke cucu di daerah Batak) yang baru berusia  tiga bulan. Seperti biasa, beliau memang termasuk sering sariawan bila kondisi fisik kurang fit. Kejadian itu tidak terlalu dia hiraukan. Hari-hari ia jalani seperti biasa, beraktivitas. Usianya yang ke- 67 tidak menyurutkan dirinya melakukan berbagai kegiatan, termasuk kegiatan adat. Ia memang termasuk ibu yang energic.Minggu demi minggu,  sariawan tidak sembuh. Ia mulai risau dengan bintik-bintik di lidah yang tidak menunjukkan kesembuhan.

Kerisauan itu, akhirnya dia konsultasikan dengan dokter di daerah Serbelawan. Berdasarkan hasil diagnosa,  sariwan terjadi karena proses pencernaan di lambung tidak normal. Ya, bisa dimengerti karena beliau memang termasuk kurang teratur makan. Namun sayang,  meskipun telah berbulan-bulan tidak ada tanda-tanda sembuh, bahkan bintik-bintik semakin banyak.Kegelisahan mulai merasuki perasaan dan pikiran. Beberapa informasi yang terlintas di benak ibuku, bahwa sariawan yang bermula dari“manimburi”  merupakan perbuatan tidak baik.  Memang, saat“manimburi”  bahan yang dipergunakan antara lain adalah  sirih. Berdasarkan pandangan orang tertentu, sirih bisa dijadikan sebagai sarana untuk guna-guna. Entahlah…iman kami sebagai  anak-anaknya  sempat dibuat  bimbang.

Keinginan kuat untuk sembuh menjadi prioritas.  Penderitaan karena sariawan benar-benar mengganggu seluruh aktivitas  bahkan menjadi fokus perhatian dan pikirannya dan sangat  mengganggu. Selain menjalani pengobatan medis,  ibuku juga mencoba pengobatan alternatif,  berupa pengobatan herbal. Biaya pengobatan ia usahkan. Untung produksi kelapa sawit yang ia upayakan bersama almarhum ayah sepuluh tahun yang lalu dapat menutupi biaya pengobatannya.Penyakit fisik berdampak pada seluruh kepribadiannya. Penyakit itu tidak mau beranjak.  Lidah bagian luar mulai terkikis. Secara kasat mata, lidah terkikis karena gesekan gigi geraham atas dan bawah.

Salah satu dokter di Pematang Siantar menyarankan agar gigi yang bergesekan dicabut. Usul itu lama ia terima. Lidah semakin  parah. Kata-kata yang diucapkan sudah mulai tidak jelas lagi.  Berdasarkan anjuran dari anak-anak ia pun merelekan gigi geraham  dicabut.Puji Tuhan ada perobahan, ia merasakan ada kemajuan. Ia mulai dapat makan meskipun masih harus yang lembek. Ia senang. Ia mulai beraktivitas meskipun masih di sekitar rumah. Kata-kata yang diucapkan  sudah mulai cukup jelas.Ia senang bisa  beraktivitas. Ia mulai mengkonsumsi berbagai macam makanan termasuk yang berlemak. Makanan ini memang gurih dan menambah selera makan. Entahlah, apakah karena  makanan yang tidak terkontrol, lidah mulai  luka dan agak menjorok ke dalam lidah. Kegundahan mulai ia rasakan termasuk seluruh  anaknya.  Keluarga kembali berkonsultasi dengan  dokter. Analisa dokter benar-benar mengejutkan,“Kanker lidah”. Dokter menyarankan agar lidah dioperasi atau dikemoterapi. Perasaannya semakin galau. Ia tidak ingin dioperasi.“Biar saya seperti ini namun masih bisa bicara dengan semua orang yang saya sayangi,  meskipun tidak jelas. Apa artinya saya hidup, punya lidah tetapi tidak bisa bicara”Seiring berjalannya waktu, ia tidak rela lidah dioperasi atau dikemoterapi, berbagai upaya pengobatan herbal lebih diupayakan.

Adikku laki-laki yang bungsu terpaksa mengorbankan usahanya terbengkalai di Muara Bungo, untuk mengurus ibu yang kami cintai di kampung halaman. Adikku yang perempuan bersama adik ipar juga  tetap sabar merawatnya . Segala upaya telah dilakukan  namun Tuhan berkehendak lain. Ibuku memiliki iman bahwa hidup ini hanya sementara,  semua akan kembali kepada-Nya. Ia pun menyiapkan dirinya untuk kembali ke pangkuan Bapa Yang Maha Pengasih. Semua ia persiapkan dengan baik untuk kembali ke pangkuan yang ilahi. Selamat jalan Bunda. Doa kami menyertaimu. Jasamu akan selalu kami kenang dan Kasih sayangmu  akan menjadi perekat yang kuat bagi kami anak-anakmu. Semoga hatimu selalu terbuka untuk menerima kasih sayang Tuhan dan keselamatan dari Tuhan.

Source : Kompasiana.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RizcaFitria

Facilitating Learning

Personal Growth Specialist

Follow Your Path, Fulfill Your Destiny, Build Your Legacy

Jejak-jejak yang Terserak

If Better is Possible, Good is Not Enough

Wordpress of Muchopick

Kumpulan artikel yang unik, cantik dan menarik.

RUMAHKU SURGAKU

Aktivitas Hidupku...........

%d blogger menyukai ini: