Tuhan, Jangan Biarkan Kanker Payudara Merenggut Bunda Para Anak Desa Itu

Oleh:Khairunnisa Musari

Saya senang menulis. Bagi saya, menulis adalah sebuah cara menjaga keseimbangan diri. Ketika hati gundah, menulis adalah cara ampuh untuk meredakannya. Ketika bibir tak mampu berbicara, lewat tulisan saya berkata. Ketika pikiran melanglang buana, menulis adalah cara untuk membumikannya.
Tidak sedikit orang seperti saya yang selalu merasa kesulitan untuk menyampaikan isi hati dan pikiran melalui lisan. Bagi orang seperti saya, rasanya lebih mudah untuk menyampaikan isi hati dan pikiran melalui tulisan. Mungkin ini pula yang menyebabkan orang-orang seperti saya menjadi lebih gampang tersentuh menangkap suasana batin dari tulisan ataupun perasaan orang lain.

Ya, kadang memang tak selalu benar dalam memahaminya lantaran kepekaan ini tak jarang membawa imajinasi yang melangit. Ketidakbenaran ini kerap juga terjadi ketika seorang penulis mengakui tulisannya hanya sebagai sebuah fiksi atau cuplikan kisah milik orang lain, padahal faktanya merupakan curahan jiwanya. Begitu intens dan piawainya seseorang menulis, menyamarkan cerita bukan sesuatu yang sulit. Tapi percayalah, tak ada maksud untuk berdusta. Hal tersebut dapat dipahami karena tak semua rasa dan rahasia hati dapat diungkap melalui kata-kata.

Untuk itu, hanya bahasa kalbu yang dapat menjelaskan kebenarannya. Ini pula yang saya rasakan terjadi pada Lia…Mungkin sekitar seminggu yang lalu, saya tak sengaja membaca status Fesbuk dari pendiri dan pengasuh taman bacaan kami di Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Saya berkenalan dengannya sudah sekitar 2,5 tahunan. Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak desa-lah yang mempertemukan kami melalui sebuah wadah taman bacaan Rumpun Aksara yang didirikan bersama suami dan sahabatnya yang juga merupakan sahabat saya.
——————-
“Sudah ada penyebaran sampai ketiak, Bu. Untuk lebih memastikan, kita USG saja dulu.”
Kejadian 3 bulan lalu seolah terulang. Ketegaran yang kusiapkan runtuh sudah. Harapan akan keajaiban lenyap seketika. Aku dihadapkan pada sebuah realita yang cukup memilukan.
Dengan langkah gontai, aku menuju ruang USG. Sekitar setengah jam dokter mengaduk ngaduk payudara, ketiak, leher, dada dan perut dengan tranduser. Cairan gel yang dingin membekukan tawaku.

Setelah satu jam menunggu, aku dipanggil oleh dokter untuk mendengarkan hasil pemeriksaan. Kembali aku menguatkan hati. Siapa tahu pembacaan dokter tadi pagi salah.
“Seperti yang saya sampaikan tadi, Bu, memang ada penyebaran di ketiak. Diameternya 1-1,5 cm. Juga terjadi pembesaran benjolan pada payudara. Dari USG juni lalu, diameter masih 2-3 cm. Sekarang, diameternya sudah mencapai 5 cm. Saran saya, segera dilakukan pengangkatan atau operasi.”

Aku terhenyak. Pernyataan dokter memang sudah kuperkirakan, tapi mengapa hatiku masih tidak bisa ikhlas. Air mata yang kucoba tahan tumpah sudah.
“A..pa ti..dak ada cara la..in, Dok?”kataku terbata.
“Maaf Ibu, kanker Ibu masuk dalam kategori ganas. Jadi menurut saya, lebih cepat diangkat itu lebih baik. Untuk kasus ini, saya dan Ibu berkejaran dengan waktu.”

Cuplikan Cerpen
———————-

Ya, Lia menambahkan dua kata ‘Cuplikan Cerpen’ pada akhir tulisannya di dinding Fesbuk-nya. Membaca satu persatu komen, Lia mengakui bahwa dia sedang memikirkan alur dan ending dari cerpennya itu. Intuisi saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang janggal…

Nama aslinya adalah Yuliatiningsih. Nama penanya adalah Lia Salsabila. Beranak satu. Dia senang menulis puisi, menulis cerpen, menggambar, melukis, dan bermain dengan anak-anak. Anaknya Lia sendiri ada 1. Namanya Icha. Mungkin usianya Icha sekitar 7 tahun. Usia Lia sendiri mungkin hanya selisih 2-3 tahun di bawah saya. Jadi saya perkirakan usia Lia sekitar 30-31 tahunan.Keinginan Lia untuk mendirikan taman bacaan bagi anak-anak Desa Panti memperoleh banyak sambutan hangat. Meski pada awalnya Lia dan suami serta sahabatnya harus berjuang sendirian secara swadaya dalam mendirikan taman bacaan, tapi saya melihat ada saja uluran tangan dari sahabat-sahabat dunia maya maupun dunia nyata yang membantu mereka. Melalui foto-foto yang Lia tag untuk saya, saya mengetahui sejumlah mahasiswa, baik sebagai pribadi maupun komunitas, kerap menjadi sukarelawan dalam setiap kegiatan-kegiatan di taman bacaan tersebut.

Sebelumnya, saya memang pernah menulis tentang taman bacaan Rumpun Aksara yang didirikan Lia. http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/15/hari-ini-taman-bacaan-kami-yang-sederhana-dan-terpencil-berulang-tahun/

Jika dua tulisan saya sebelumnya mengulas lebih banyak kepada taman bacaannya itu sendiri, tulisan ketiga ini saya dedikasikan untuk Sang Bunda pendiri dan pengasuh taman bacaan di desa tersebut.

Tadi sore, kembali saya menemukan sebuah puisi dari akun Fesbuknya Lia. Kali ini, puisinya benar-benar menghenyak saya. Yang ia tuliskan adalah mimpi saya kemarin malam yang membuat saya tiba-tiba berhasrat besar untuk meluangkan waktu diakhir pekan untuk mengunjungi Lia dan taman bacaannya.
—————————————-

Belum Ada Judul

Malam ini, saya kembali
Buah dadaku jatuh satu
Di atas barisan tombak terkoyak
“Tangis pilu tak mampu kuhenti, sebab hampa membebat urat nadi”Buah dadaku jatuh satu
Menimpa empedu
Pahit menghitam, kelu“Ketakutan merajah, menyesak di antara isak. Kekakulatan berkelindan di jantung jiwa”
Buah dadaku jatuh satu
Menggelinding di sudut bisu
Aku tersedu“Jemari tak henti mencari, meraba menggapai mengungkai menggali ketegaran di kolong hati”Buah dadaku jatuh satu
Membawa setengah nafas
Tergadai sepilin kehidupan“Remah-remah keceriaan bertaburan di pekat malam. Kukumpulkan dengan seikat daun salam”Buah dadaku jatuh satu
Menunaikan tugas akhir
Ikhlas menuju takdir“Menjadi setengah ayah, setengah ibu, berdiri setegar karang, mendekap selembut agar agar”
———————————-

Ya, Lia sepertinya pelan-pelan mulai mengakui kepada dunia bahwa ia tengah berjuang menghadapi kanker payudara. Sudah sepekan sejak saya membaca postingan Lia di Wall-nya, saya memang selalu teringat dirinya. Kanker payudara tiba-tiba menjadi dua kata yang selalu muncul di kepala saya dengan berbagai gambar rekaan di kepala saya. Ketika saya menyusuri Google Gambar, tak pelak lagi tangis ini tumpah menyaksikan sejumlah gambar yang memiriskan hati. Tak sanggup saya menyaksikan semuanya. Duh Rabb, jika penyakit itu yang engkau ujikan padaku, apakah aku sanggup menanggungnya?
Hmfffhhhh…

Saya menemukan informasi di http://www.kankerpayudara.org bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kanker payudara. Diantaranya adalah perubahan sifat pertumbuhan sel payudara menjadi ganas, tubuh gagal membangun sistem pertahanan tubuh, faktor gizi yang buruk pada makanan yang dimakan, penggunaan hormon estrogen, payudara yang sering diremas/dipencet, minum alkohol dan merokok, obesitas pada wanita setelah menopause, konsumsi lemak dan serat, radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas, dan faktor genetik dan riwayat keluarga. Ada begitu banyak kemungkinan penyebab kanker payudara dan mungkin saja perkembangan sel kanker dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor.Kanker payudara sendiri adalah penyakit kanker dengan jumlah penderita terbanyak nomor dua di dunia dan menjadi penyebab kematian nomor lima terbesar di dunia. Untuk mendeteksi dini adanya kanker payudara, maka para wanita harus melakukan pemeriksaan rutin terhadap payudara. Tanda awal dari kanker payudara adalah ditemukannya benjolan yang terasa berbeda pada payudara. Jika ditekan, benjolan ini tidak terasa nyeri.

Awalnya benjolan ini berukuran kecil, tapi lama kelamaan membesar dan akhirnya melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau puting susu.
Dari situs yang sama, berikut hal-hal yang harus diperhatikan para wanita untuk mengenali gejala kanker payudara:Benjolan pada payudara berubah bentuk/ukuran;
Kulit payudara berubah warna: dari merah muda menjadi coklat hingga seperti kulit jeruk;
Puting susu masuk ke dalam (retraksi);
Salah satu puting susu tiba-tiba lepas / hilang;
Bila tumor sudah besar, muncul rasa sakit yang hilang-timbul;

Kulit payudara terasa seperti terbakar;
Payudara mengeluarkan darah atau cairan yang lain, padahal tidak menyusui;
Tanda kanker payudara yang paling jelas adalah adanya borok (ulkus) pada payudara. Seiring dengan berjalannya waktu, borok ini akan menjadi semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara. Gejala lainnya adalah payudara sering berbau busuk dan mudah berdarah.Hmfffhhhhh…Lia. Sang operator laboratorium di sebuah Poltek Negeri terkemuka di kota Jember yang baru saja mengikuti Diklat Prajab ternyata harus berbesar hati menerima ujian Sang Khalik. Seperti yang Ibunya sampaikan kepada Lia,“Nduk, lek uwong diparingi cobaan, kuwi tandane Gusti pangeran welas, dadi piye carane awake dewe ki kudu bertawakal lan ikhlas”, saya pun sangat meyakini bahwa Allah pasti punya maksud baik atas ujian ini pada Lia.

Kini, saya sedang berpikir bagaimana caranya dapat membantu mencarikan tambahan dana sebesar Rp 25 juta untuk operasi kanker payudara Lia. Dari total Rp 45 juta yang harus dibayarkan, Lia mungkin masih bisa memperoleh bantuan Askes sebesar Rp 20 juta. Masih ada kekurangan sebesar Rp 25 juta. Suaminya yang menjadi staf pemasaran di sebuah pabrik pupuk, mungkin butuh waktu agak lama untuk mengupayakan dana tersebut dalam waktu cepat dan dalam jumlah tersebut.

Sementara, taman bacaan kami Rumpun Aksara masih harus terus berjalan. Anak-anak desa yang mayoritas adalah anak-anak dari buruh Perusahaan Perkebunan yang ada di sekitar Desa Panti ini membutuhkan keberadaan taman bacaan sebagai sumber pencerah dalam menatap masa depan.Ya, Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia bukan hanya kota-kota besar yang menawarkan gemerlap dan kemegahan serta kerlap-kerlip genit cahaya malam. Indonesia juga adalah pedesaan, daerah-daerah terpencil, perbatasan, dan pelosok malam yang penuh keremangan dan gulita. Indonesia bukan hanya memiliki anak-anak berprestasi dengan cita-cita tinggi yang mengharumkan nama bangsa.

Indonesia juga memiliki anak-anak negeri yang tak mampu mengenyam pendidikan, bahkan tak terpikir untuk memiliki mimpi atau berani memiliki cita-cita. Taman bacaan kami adalah potret perjuangan anak bangsa yang ingin berpartisipasi mengisi kelemahan sistem yang belum mampu mengakomodir anak-anak negeri yang berada di wilayah pedesaan, terpencil atau di wilayah perbatasan, untuk bisa melihat betapa luasnya dunia, untuk bisa memiliki cita setinggi langit, dan untuk bisa memiliki mimpi…

Jika ada yang mengetahui bagaimana dapat membantu Lia untuk memperoleh bantuan dana operasi kanker payudara, mohon informasinya ya. Jika ada yang berkenan membantu donasi, sila langsung ke Rekening Bank Mandiri a.n Yuliatiningsih No. 143-000-49-24724. Terimakasih tiada terhingga jika ada yang berkenan membantu. Semoga Allah menggantikannya dengan balasan kebaikan yang lebih baik dan lebih banyak.

Semoga bantuannya membawa barokah bagi semua pihak, tidak hanya bagi Lia dan keluarga, tetapi juga untuk para donatur, dan tentu saja juga bagi anak-anak di sekitar taman bacaan Rumpun Aksara di Desa Panti, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember…Untuk Lia, semoga berkenan dan tak marah dengan tulisan ini. Semoga Lia tetap semangat untuk bertahan dan berjuang menghadapi kanker payudara. Jangan menangis berlama-lama. Allah pasti punya maksud baik untuk Lia.

Banyak cinta dan doa dari para sahabat, keluarga, suami tercinta Lia, dan anak-anak desa serta ayah ibunya yang pasti terkirim untuk Lia…karena Lia memang berarti bagi mereka… dan pasti menjadi inspirasi bagi mereka yang peduli bagi anak-anak negeri yang tak memiliki kesempatan untuk memiliki mimpi dan cita.
Salam.

Source : Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RizcaFitria

Facilitating Learning

Personal Growth Specialist

Follow Your Path, Fulfill Your Destiny, Build Your Legacy

Jejak-jejak yang Terserak

If Better is Possible, Good is Not Enough

Wordpress of Muchopick

Kumpulan artikel yang unik, cantik dan menarik.

RUMAHKU SURGAKU

Aktivitas Hidupku...........

%d blogger menyukai ini: