Terselamatkan oleh “Second Opinion”

Oleh:Nurul Kartikaningsih

Sekitar sebulan yang lalu seorang kerabat, sebut saja Tya, 41 tahun, datang pada saya dan mengeluhkan bahwa payudara kanannya membengkak dan terasa nyeri layaknya ibu yang sedang menyusui. Istilah bahasa Jawanya ngrangsemi. Padahal ia tidak sedang menyusui. Anak bungsunya telah berusia 6 tahun. Kondisi itu telah berlangsung sekitar dua bulan. Tentu saja pikirannya kalut, bayangan penyakit kanker payudara memenuhi pikirannya.

Terdorong oleh perasaan iba, saya mengantarkannya untuk memeriksakan diri ke sebuah Yayasan Kanker di Surabaya. Di sana ia diperiksa oleh Dr. Jetty  dan direkomendasikan untuk melakukan tes FNA di sebuah laboratorium. Tak mau membuang waktu, kami langsung menuju laboratorium yang dimaksud. Setelah menunggu beberapa lama, Tya mendapat giliran untuk diperiksa. Dokter yang bertugas mengambil sampel cairan dari puting susu Tya menggunakan spet dan langsung memeriksanya di bawah mikroskop. Kami menunggu beberapa waktu untuk memperoleh hasilnya.

Di ruang tunggu kami bertemu dengan dua orang pasien dengan keluhan yang sama – seputar benjolan di payudara. Yang seorang, ibu-ibu berusia sekitar 60 tahun. Seorang lagi seorang ibu, sebut saja Iffah, 43 tahun. Iffah tak berkeberatan membagi pengalamannya pada kami. Ia menemukan sebuah benjolan di payudara kanannya sejak setahun yang lalu.

Benjolan berdiameter 3 cm itu membuatnya gelisah. Maklum, seorang kakak perempuan – yang juga mengantarnya periksa – telah mengalami operasi pengangkatan payudara karena kanker ganas stadium 3A sepuluh tahun yang lalu. Sejauh ini kakak perempuan Iffah berhasil survive dari kanker ganas tersebut. Menurut Dokter yang mengoperasi, ada kemungkinan keluarga (bisa saudara atau anak) perempuannya akan mengalami hal yang sama (terkena kanker payudara).

Berhubung waktu itu Iffah belum memiliki keberanian untuk operasi, maka ia membiarkan saja benjolan di payudara kanannya. Selang setahun, baru ia berani memeriksakan diri ke seorang Dokter Spesialis Bedah yang dulu menangani penyakit sang kakak, sebut saja Dokter X. Dokter X memiliki sebuah klinik bedah umum yang bertempat di rumah pribadinya di Surabaya. Dari sana ia dirujuk untuk menjalani tes FNA di laboratorium dimana kami bertemu. Setelah memperoleh hasil lab ia berencana langsung kembali menuju klinik bedah umum milik Dokter X. Sedangkan Tya sendiri baru dua hari kemudian dijadwalkan kontrol ke Dr. Jetty di Yayasan Kanker dengan membawa hasil lab.

Hasil lab Iffah dan Tya sama. Diagnosisnya adalah mastitis non specific. Tidak ada tanda-tanda ganas. Bedanya benjolan di payudara Iffah berdiameter 5 cm, sedangkan Tya 3 cm.
Iffah menyarankan Tya agar ikut memeriksakan diri ke Dokter X sambil menunggu jadwal kontrol ke Yayasan Kanker dua hari lagi. Menurutnya Dokter X teliti dalam melakukan pemeriksaan. Selain itu biaya operasi di sana dikenal sangat murah.
Akhirnya Tya memutuskan untuk ikut Iffah ke klinik bedah Dr. X. Kami pun menuju ke klinik tersebut bersama-sama. Setelah beberapa jam menunggu karena ada dua pasien yang sedang menjalani operasi kaki, Iffah masuk ke ruangan periksa. Sekitar setengah jam kemudian ia keluar sambil menyampaikan pada kami bahwa ia akan menjalani operasi biopsi keesokan harinya dengan biaya Rp. 5 juta. Saya lihat wajah Tya pucat seketika. Sekuat tenaga saya berusaha menenangkannya saat kami akan masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana tampak menunggu Dokter X dan seorang perawat laki-laki. Beliau menanyakan banyak hal tentang keluhan yang dialami Tya. Di antaranya: sejak kapan keluhannya muncul, apakah Tya merasakan demam, dan bagaimana rasa sakitnya. Dokter X pun memeriksa Tya dibantu oleh perawat tadi.

Selesai memeriksa, dimulailah ‘teror’ menakutkan itu.
Menurut Dokter X hasil lab keakuratannya hanya 60-70 persen saja (beliau hanya melihat sekilas saja lembaran hasil tes FNA). Meskipun hasil lab menyatakan benjolan di payudara Tya tidak ganas, belum tentu benjolan itu memang benar-benar tidak ganas. Dari hasil pemeriksaannya, Dokter X mengatakan bahwa kemungkinan justru benjolan di payudara Tya adalah ganas dan sudah menjalar ke ketiak dan leher (padahal Tya merasa tidak ada keluhan di ketiak dan leher).  Apalagi Tya tidak mengeluhkan demam seperti tanda-tanda mastitis pada umumnya. Dokter X memvonis Tya harus melakukan biopsi (pengangkatan benjolan) secepatnya dengan alasan bila memang ia mengidap kanker ganas, maka kanker akan cepat menjalar karena payudara sudah diganggu dengan jarum suntik saat pengambilan sampel di lab. Setelah dilakukan biopsi, akan diadakan pemeriksaan lab lebih lanjut selama seminggu untuk memastikan apakah jaringan yang diangkat jinak atau ganas. Kalau memang ganas, maka payudara kanan Tya harus diangkat seluruhnya.

Ovarium (indung telur) juga harus diangkat. Saat kami menanyakan, kalau memang benar-benar kanker, Tya sudah memasuki stadium berapa, Dokter X menyebutkan sebuah angka yang membuat Tya semakin pucat pasi: 3A! Blassst.. Lemaslah Tya.
Dokter X menyarankan biopsi harus dilakukan secepatnya sambil menunjukkan foto-foto pasien penderita kanker payudara yang membuat jantung deg-degan, kepala berdenyut-denyut dan perut mual-mual. Keluar dari ruang pemeriksaan, saya harus memapah Tya yang sudah kelihatan limbung dan mengantarnya pulang. Malam itu benar-benar menjadi mimpi buruk untuk Tya. Ia stress dan tak bisa tidur semalaman. Bayang-bayang kanker payudara yang menggerogotinya hingga stadium 3 A begitu nyata di depan mata. Sedangkan ketiga anaknya masih kecil-kecil.

Sebagai seorang kerabat saya berusaha keras untuk menghiburnya. Karena bila ia sampai stress, maka penyakitnya bisa-bisa malah semakin parah. Saya menghubungi beberapa kenalan dan saudara yang memiliki kisah berkenaan dengan penderita kanker payudara. Browsing internet juga kami lakukan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Dari berbagai kisah dan sumber yang saya peroleh, saya berani mengatakan kalau Dokter X bisa saja salah telah menyebut Tya mengalami kanker stadium 3A. Dari ciri-ciri fisik yang saya amati pada payudara Tya, saya cocokkan dengan ciri-ciri yang saya peroleh dari berbagai sumber di internet. Sepertinya Tya tidak separah itu.

Dari internet pula kami mengetahui kalau mastitis itu adalah radang payudara, bukan kanker payudara, meski ada beberapa kasus mastitis yang bisa menjadi indikasi kanker. Lalu kami mencoba untuk berpikir logis dan tidak terburu nafsu. Menurut Dokter X, kepastian sebuah benjolan adalah ganas atau jinak harus melalui serangkaian tindakan: biopsi dan pemeriksaan jaringan. Berarti vonis kanker stadium 3A dari Dokter X belumlah valid, karena hanya berdasarkan pemeriksaan fisik saja. Sebagai orang awam, saya juga menganalogikan dengan sakit gigi, gigi yang sakit tidak boleh dicabut bila terjadi peradangan gusi. Butuh antibiotik dulu untuk menyembuhkan radang, baru gigi boleh dicabut. Menurut saya, begitu juga dengan kasus Tya. Peradangan harus disembuhkan dulu, baru boleh diambil tindakan. Benar atau tidaknya wallahu a’lam bishawab.
Berdasarkan logika itu, saya menyarankan Tya untuk tidak mengambil keputusan yang terburu-buru.

Apalagi suami Tya sedang bertugas di luar kota. Saran Dokter X untuk melakukan tindakan biopsi akhirnya kami kesampingkan. Tya akhirnya menuruti saran saya dan memutuskan untuk mengambil second opinion. Meminta pendapat dokter lain mengenai penyakitnya.
Keputusan mendapatkan second opinion membawa kami kembali ke Yayasan Kanker dua hari kemudian dengan membawa hasil lab. Bertemu dan mendapat penjelasan dari Dr. Jetty mengenai penyakit yang diderita Tya membuat perasaannya cooling down. Dengan gaya bicara yang lemah lembut namun tegas, Dr. Jetty menyampaikan bahwa beliau belum bisa memastikan penyakit Tya ganas atau tidak. Tapi diagnosis sementara merujuk pada hasil lab bahwa penyakit yang diderita Tya adalah mastitis non spesific dengan benjolan berdiameter 3 cm. Beliau memberikan resep berupa antibiotik yang harus diminum sehari tiga kali selama lima hari. Terlihat sekali mendung di wajah Tya mulai bergeser.

Ada sedikit kelegaan setelah mendengar penjelasan Dokter Jetty.
Lima hari minum antibiotik, radang di payudara kanan Tya mulai membaik (mengecil). Rasa nyeri juga sudah jauh berkurang. Kami kembali untuk kontrol ke Yayasan Kanker. Kabar baik kami dengar dari Dokter Jetty. Beliau merasa optimis bahwa Tya akan baik-baik saja. Resep selanjutnya untuk Tya adalah antibiotik tambahan selama 3 hari dan multivitamin untuk 30 hari.

Rasa optimis tergambar jelas dari raut wajah Tya. Meski sebenarnya ia sudah ikhlas atas penyakit yang dideritanya dan siap terhadap kemungkinan terburuk sekalipun.
Sebulan berlalu. Vitamin sudah habis dikonsumsi. Kondisi Tya sudah sangat baik. Benjolan sudah jauh mengecil. Rasa nyeri sudah hilang sama sekali. Tadi pagi kami berangkat ke Yayasan Kanker untuk kontrol. Dokter Jetty kembali menyampaikan kabar baik. Menurut beliau Tya sudah jauh membaik. Beliau juga berani memastikan bahwa penyakit yang diderita Tya bukanlah kanker, melainkan mastitis seperti yang didiagnosa semula berdasarkan hasil tes FNA. Dokter Jetty memberikan resep lagi berupa multivitamin dan vitamin E untuk 30 hari. Legalah kami berdua. Payudara kanan Tya selamat dari upaya biopsi yang sebenarnya tidak perlu.

Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman Tya ini. Hikmah terbesar adalah keputusan mencari second opinion. Bisa dibayangkan bagaimana nasib payudara Tya bila ia setuju menjalankan biopsi yang tidak perlu.  Hikmah berikutnya, adalah berpikir jernih, logis, dan tidak terburu nafsu sehingga keputusan yang diambil benar-benar melalui pemikiran yang matang. Yang ketiga, mencari informasi sebanyak-banyaknya, baik dari internet maupun dari kisah-kisah tentang kanker payudara dari teman dan kerabat. Dan yang terakhir, berusaha sekuat tenaga agar ikhlas dan tenang, meskipun sulit.

Kitalah yang seharusnya mengendalikan penyakit, bukan sebaliknya. Berpikir positif dan tenang akan sangat membantu penyembuhan penyakit.
Sebenarnya Tya juga sudah menyiapkan third opinion bila memang penyakitnya belum membaik. Tapi ternyata second opinion saja sudah cukup. Alhamdulillah..

Memang, dokter juga manusia. Hanya saja saya punya sedikit saran untuk para dokter: sebaiknya berhati-hati dalam menyampaikan penyakit, seburuk apapun kondisi penyakitnya. Bila dokter terlalu keras dalam gaya berbicara terhadap pasien, apalagi sampai menunjukkan foto-foto yang mengerikan, siapapun pasiennya, pasti akan ketakutan dan stress. Bukankah stress akan memperparah kondisi penyakit pasien?
Sebaiknya pasien tidak hanya mempertimbangkan pendapat satu dokter saja untuk penyakit-penyakit yang cukup berat dan memerlukan tindakan operasi. Karena terbukti, second opinion telah menyelamatkan payudara kanan Tya.
Buat rekan kompasianers…
Mohon do’anya agar Tya bisa sembuh total ya.. Makasih..🙂

Source : Kompasiana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

RizcaFitria

Facilitating Learning

Personal Growth Specialist

Follow Your Path, Fulfill Your Destiny, Build Your Legacy

Jejak-jejak yang Terserak

If Better is Possible, Good is Not Enough

Wordpress of Muchopick

Kumpulan artikel yang unik, cantik dan menarik.

RUMAHKU SURGAKU

Aktivitas Hidupku...........

%d blogger menyukai ini: