Posts Tagged ‘Kanker Tulang’

10 Vaksin Baru untuk Pengobatan Penyakit Kanker di Tahun 2012 – Bagian ke Empat

Oleh:Leo Kurniawan

10 Vaksin Baru Untuk Pengobatan Penyakit Kanker
Di Tahun 2012 – Bagian Ke Empat
Tak terasa tahun 2012 telah mendekati akhir, hanya tinggal hitungan hari saja, maka segera akan terjadi penggantian tahun yang baru menjadi tahun 2013.Apa yang telah terjadi sepanjang tahun 2012 di dunia penelitian vaksin ? Apakah telah ditemukan vakin baru untuk mencegah penyakit infeksi ? Atau telah ditemukan vaksin HIV yag sudah dituggu-tunggu hampair 40 tahun lamanya ?Bagaimana dengan perkembangan penelitian phase III vaksin Dengue yang sedang dilakukan di 5 negara ASEAN, yaitu di Indonesia, Thailand, Philipine, Malaysia dan Viet Nam ?Apakah para ilmuwan telah berhasil menemukan vaksin malaria juga ?Apakah ada terobosan baru dari vaksin lama ? Misalnya menjadi hexavalent vaksin ? Atau bahkan vaksin yang berisi tujuh valensi ?Atau telah ditemukan juga vaksin untuk pengobatan penyakit non infeksi ?Ya benar, anda tidak salah membaca,  yaitu adanya berita tentang berhasil ditemukannya vaksin untuk mengobati penyakit non infeksi, bukan seperti selama ini, kita hanya kenal dan tahu vaksin untuk mencegah penyakit infeksi.

Para ilmuwan pengobatan telah menguubah paradikma bahwa vaksin hanya untuk mencegah penyakit infeksi menjadi vaksin juga mengobatai penyakit non infeksi !Nah, mendekati ujung tahun 2012, kali ini kita ingiin membahas hasil kerja para ilmuwan dalam bidang vaksin dan temuan mereka untuk mengobati dan mengatasi PENYAKIT NON INFEKSI .

Pendahuluan

Sejarah perkembangan vaksin modern dimulai sejak Edward Jenner pada tahu 1796, yang berhasil membuat seorang anak berusia 8 tahun menjadi kebal terhadap penyakit cacar, hanya dengan menggoreskan nanah dari cacar sapi, yang telah diolah dengan sterilisasi, sesuai dengan standard ilmu kedokteran pada zaman itu,  ke lengan anak tersebut.Sejak dulu vaksin selalu dikaitkan dengan tujuan pemakaian untuk mencegah penyakit infeksi, namun secara bertahap, penelitiaan telah beralih ke sistim pertahan tubuh, untuk membuat vaksin bukan hanya untuk mencegah penyakit, tetapi juga untuk mengobati penyakit, yang dimuali dilakukan dibidang pengobatan penyakit keganasan kanker (onkologi)Vaksin pengobatan penyakit yang pertama akan dipasarkan adalah vaksin Oncophage, yang telah mendapatkan pengakuan di Rusia pada tahun 2008, yang dipergunakan untuk mengobati penyakit kanker ginjal. Dan vaksin sipuleucel-T, yang diakui oleh FDA Amerika tahun 2010, dipekai untuk mengobati penyakit kenker prostat pada pria.Menyusul dibelakang perkembangan penelitian vaksin untuk pengobatan adalah vaksin untuk mencegah penyakit infeksi yang telah lama ditunggu, seperti misalnya vaksin HIV, vaksin HPV  untuk mencegah penyakit kanker serviks pada wanita

Pembahasan

Berikut ini kita akan membahas temuan 10 jenis vaksin yang dipergunakan untuk pengobatan, yang telah berhasil ditemukan oleh para ilmuwan dalam usaha penelitian mereka sepanjang waktu hingga pada tahun 2012.(Lihat Posting sebelumnya 10 Vaksin Baru Untuk Pengobatan Penyakit Kanker Di Tahun 2012 – Bagian Ke Tiga –  24 December 2012)—————————————————————————————————
7. Vaksin Untuk Pengobatan Kanker Kelenjar Prostat
Ini adalah masalah kesehatan yang menyangkut kaum pria,  kanker kelenjar prostat merupakan sebab ke 2 kematian pria karena penyakit kanker. Angka kematian adalah 4.3 per 100.000 penduduk.Penulis masih ingat semasa kecil, sering berkumpul dengan teman-teman sebaya, bermain bola dan berenang dikali, dan setelah selesai dan puas bermain bola atau berenang, maka sering diadakan“kontes buang air kecil”diantara teman-teman, yaitu menilai siapa yang sanggup menyemprotkan air seninya hingga jarak yang terjauh ! Dan jangan heran, ada yang sanggup menyemprotkan air seninya hingga lebih dari 1 atau 2 meter ! Minimal adalah 1 meter.Setelah menjadi dewasa, maka“prestasi”jarak semprotan urine yang  jauh itu tinggal kenangan, karena sekarang jarak semprotan urine sudah semakin dekat,  bahkan kalau tidak berhati-hati, akan membasahi sepatu atau kaki celana pantalonnya !Kemampuan jarak semprotan urin ini adalah berbanding terbalik dengan semakin bertambahnya usia seorang pria.Mengapa hal ini bisa terjadi ? Jawabannya adalah karena disekitar pangkal saluran air kemih itu terdapat kelenjar prostat, yang berfungsi memberikan cairan untuk spermatozoa, yang akan membentuk cairan sperma, yang beraroma spesifik atau khas, kelenjar prostat ini dengan bertambahnya usia, ia akan ikut membesar dan akhirnya akan menekan saluran kemih dan menghambat aliran urine keluar, sehingga makin lama atau semakin tua seseorang pria, maka jarak semprotan urine akan semakin dekat, itu pun harus disertai dengan mengedan ! Ini yang dikenal di kedokteran sebagai gejalah pembesaran kelenjar prostat atau prostate hypertrophy

Tanda yang paling khas hipertrophi kelenjar prostat, adalah sewaktu ingin berkemih, karena urine tidak bisa mengalir keluar secara spontan lagi, maka ia harus berdiri diam beberapa saat, ia harus mengkontraksikan otot2 perut dan kantung kemihnya, atau mengedan terlebih dahulu, sehingga urinenya baru bisa“dipaksa”mengalir keluar.Dalam proses hipertrophi / pembesaran kelenjar karena sel kelenjar bertambah jumlahnya, juga ada kemungkinan terjadinya mutasi genetik, dan terbentuknya sel ganas kanker, sehingga ini yang memicu kemungkinan terbentuknya kanker kelenjar prostat .Berapa besar kemungkinan seorang pria menderita kanker prostat ?

Pada saat berusia 40 tahun–>1 orang diantara 1.000 orangPada saat berusia 50 tahun–>12 orang diantara 1.000 orangPada saat berusia 60 tahun–>45 orang diantara 1.000 orangPada saat berusia 70 tahun–>80 orang diantara 1.000 orangJadi semakin meningkat usia, maka semakin besar resiko dan kemungkinan seorang pria menderita kanker prostat.

Faktor Resiko Kanker Kelenjar Prostat
– Usia

Resiko terjadinya kanker kelenjar prostat bertambah dengan bertambahnya usia , sehingga jumlah kanker kelenjar prostat akan semakin banyak pada pria dari kelompok usia yang semakin tinggi, seperti tabel diatas.Lebih dari 60% kasus baru yang terdiagnosa dan angka kematian yang mencapai 80% adalah terjadi pada kelompok berusia 70 tahun atau lebih tinggi.

- Ras

Orang Amerika keturunan Afrika mempunyai kemungkinan menderita kanker kelenjar prostat tertinggi diseluruh dunia. Dan kelompok ini juga mempunyai angka kematian yang hampir dua kali lipat daripada kelompok berkulit putih. Dipercayai faktor genetik, kadar hormon testosteron dan pola makanan memberikan kontribusi atas fakta-fakta diatas.Sedangkan kelompok pria keturuan Asia mempunyai kesempatan yang paling rendah untuk menderita kanker kelenjar prostat. Namun bagi orang Asia yang telah bermigrasi dan tinggal di Amerika, akan mempunyai kesempatan yang sama dengan kelompok pria berkulit putih, ini dipercaya karena pengaruh dari faktor diet atau pola makan tadi.

- Riwayat Keluarga

Rupanya faktor keturunan juga mempunyai peranan yang menentukan, bila dari pihak ayahnya, ada orang tua atau saudara laki yang menderita kanker kelenjar prostat, maka dirinya mempunyai kesempatan juga menderita penyakit ini dua kali lipat. Namun bila dari pihak keluarga ibu dan ayah juga ada yang menderita penyakit ini, maka ia akan menjadi lima kali lipat lebih besar kemungkinan untuk juga menderita kanker kelenjar prostat ini. Bila lebih dari 2 orang kerabat dekat tadi menderita kanker kelenjar prostat, maka ia akan mempunyai kesempatan hingga 10 kali lipat !

- Diet

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan berkadar lemak tinggi, terutama daging berwarna merah dan bahan makanan dari bahan susu, akan mempunyai potensi merangsang pertumbuhan sel kenker dari kelenjar prostat ini.

- Akibat Vasektomi

Beberapa penelitian awal menunjukkan kemungkinan hubungan antara tindakan vasektomi dengan terjadinya kanker kelenjar prostat, namun pada penelitian lebih lanjut, hal ini tidak terbukti. Jadi tidak ada hubungan apapun antara tindakan vasektomi dengan kemungkinan terjadinya kanker kelenjar prostat.Pengobatan Kanker Kelenjar ProstatPengobatan tergantung pada stadium perkembangan penyakit kanker kelenjar prostat ini.Umumnya dilakukan :

- Radical Prostactectomy,

yaitu tindakan bedah dengan mengangkat seluruh jaringan kelenjar prostat, dengan harapan semua sel ganas terangkat sehingga penyakit ini bisa berhenti dan disembuhkan

- Dengan radiasi sinar radioaktif dengan tujuan mematikan sel ganas dari kelenjar prostat

- Pengobatan hormonal atau dengan cara mengangkat testis, sehingga produksi hormon testosteron bisa dihentikan, agar supaya tidak memacu perkembangan dan pertumbuhan sel ganas kelenjar prostat.Dan pada tahun 2012 ini, telah diumumkan ditemukannya sejenis vaksin yang akan dipergunakan untuk mengobati penyakit kanker kelenjar prostat, yaitu :Prostvac, yang diproduksi oleh Bavarian Nordic, yang khusus ditujukan untuk mengobati Castration

-resistant prostate cancer
Pemberian vaksin ini pada penderita kanker kelenjar prostat akan menekan perkembangan sel ganas dan meningkatkan harapan hidup penderita.

8. Vaksin Untuk Pengobatan Kanker Payudara
Latar BelakangPada tahun 2008, kanker payudara menyebabkan 458,503 kematian diseluruh dunia setahun (13.7% kematian karena kanker pada wanita dan 6.0% dari kematian semua jenis kanker pada wanita dan pria)Angka kejadian penyakit kanker payudara berbeda diberbagai negara, angka terendah berada dinegara sedang berkembang, dan paling tinggi terdapat dinegara industri, angka kejadian per 100.000 penduduk, seperti di Asia Timur, 18;  South Central Asia, 22;  Sub-Sahara Afrika, 22;  South-Eastern Asia, 26;  Africa Utara dan Asia Barat, 28;  Amerika Tengah dan Selatan, 42;  Europa Timur, 49;  Europa Selatan, 56;  Europa Utara, 73;  Oceania, 74;  Europa Barat, 78; dan Amerika Utara, 90.Kalau menurut usia sewaktu terdiagnosa kanker payudara:Wanita berusia 20 – 24 tahun adalah yang terendah, yaitu hanya 1,5 kasus per 100,000 wanita, sedangkan kalau sudah mencapai usia 75 – 79 tahun, maka kemungkinan menderita kanker payudara adalah sebesar 421.3 kasus per 100,000 wanita.

Data Kanker payudara di IndonesiaMenurut data terakhir Badan Kesehatan Dunia atau WHO, maka angka kematian karena kanker payudara di Indonesia mencapai 20,052 atau sebanyak 1,41% dari seluruh kematian. Atau angka kematian disesuaikan dengan usia adalah 20.25 per 100.000 penduduk. Indonesia menempati rangking 45 dari urutan negara didunia dalam hal kematian karena kanker payudara.Faktor Resiko

Usia dan jenis kelamin
– Semakin meningkatnya usia, maka semakin besar kemungkinan terjadi kanker payudara. Umumnya kanker payudara dengan stadium lebih lanjut ditemukan pada wanita berusia diatas 50 tahun. Wanita adalah 100 kali lebih rentan terkena kanker payudara dibandingkan dengan kaum pria. Kaum pria juga bisa menderita kanker payudara, hanya dengan presentase yang kecil.

Riwayat keluarga yang pernah menderita penyakit kanker payudara
—Bila salah satu anggota keluarga dekat kita juga menderita salah satu jenis kanker ini, seperti kanker payudara, kanker indung telur,atau kanker kolon, maka kesempatan kita juga akan menderita kanker jenis yang sama adalah semakin besar. Sekitar 20-30% wanit penderita kanker payudara, mempunyai riwayat keluarga yang juga menderita penyakit yang sama.

Faktor genetik
–Ada orang yang mempunyai faktor genetik yang membuat mereka lebih mudah menderita penyakit kanker payudara. Gen yang sering ditemukan adalah BRCA1 dan BRCA2 yang mengalami kelainan, sehingga membuat 80% wanita dengan kelainan genetik tersebut lebih mudah terkena kanker payudara dalam perjalanan hidupnya.

Siklus menstruasi
–Wanita yang memulai siklus mentruasinya lebih awal, yaitu sebelum berusia 12 tahun, atau yang mengalami masa menopause lebih lama, yaitu diatas 55 tahun, mempunyai kesempatan besar untuk menderita kanker payudara

Kelahiran anak
—Wanita yang tidak pernah melahirkan, atau yang melahirkan anak setelah mencapai usia 30 tahun, akan meningkatkan kemungkinan menderita kanker payudara. Namun melahirkan berkali-kali, atau hamil pada usia muda akan mengurangi resiko ini.

Hormone replacement therapy (HRT)
–Bila anda mendapatkan pengobatan hormonal estrogen beberapa tahun lamanya, misalnya pada pengobatan gejalah menopause dengan hormon estrogen, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kanker payudara ini

Obesitas atau kegemukan
–Ada ahli yang menganggap kegemukan atau obesitas juga merupakan salah satu faktor resiko, meskipun hal ini belum terbukti dengan jelas

Konsumsi alkohol
—Minum lebih dari 1 – 2 gelas alkohol akan meningkatkan kesempatan menjadi penderita kanker payudaraPengobatan Kanker PayudaraSangat tergantung pada stadium pada saat penyakit ini didiagnosa.Umumnya dilakukan hormonal therapi, juga khemotherapi, radiasi dan operasi pengangkatan jaringan payudara untuk menghilangkan sel dan jaringan sakit, dan mencegah penjalaran kejaringan sekitar yang sehat.

Pada tahun 2012 ini, juga diumumkan ditemukannya vaksin untuk pengobatan kanker payudara :

NeuVax (nelipepimut-S), diproduksi oleh Galena Biopharma, untuk pengobatan kanker payu-dara / Breast cancer
Dipercayakan bahwa vaksin ini dapat meingkatkan harapan hidup pasien dan mengurangi angka kekambuhan hingga 91% setelah di-ikuti hingga 24 bulan, dari masa uji klinik yang direncanakan selama 60 bulan.

9. Vaksin Untuk Pengobatan Kanker Ginjal

Introduksi
Kanker ginjal adalah penyakit ganas yang selnya berasal dari saluran tubulus jaringan ginjal, frekuensi penyakit ini sekitar 2.4 kasus (pada pria) dan 1.3 kasus (pada wanita) per 100.000 orang. Dan angka ini terus meningkat sekitar 2- 3% setiap tahunnya.Penyakit kanker ginjal ini umum ditemukan pada orang tua yang berusia diatas 65 tahun, dan lebih jarang ditemukan pada orang berusia dibawah 50 tahun.
Faktor Penyebab

Kebiasaan merokok
—dua kali lebih besar kemungkinan daripada orang bukan perokokKontak dengan zat kimia tertentu
—Pekerja yang berhubungan dan kontak dengan zat warna aniline dan logam beratObesitasPenyakit ginjal stadium akhir
—penyakit ginjal khronik yang memerlukan proses hemodialisa (cuci darah)Pemakaian jangka lama obat anti nyeri
—pemakaian jangka lama obat-obatan anti nyeri seperti parasetamol, dan NSAID (non steroid anti inflamatory drugs) seperti ibuprofen dan aspirinPenyakit kanker ginjal bawaan

–Pada golongan orang tertentu, secara bawaan telah mempunyai kelainan seperti kanker pada ginjalnya, sehingga ini lebih mempermudah terjadinya kanker sel ginjal dibandingkan mereka yang normal. Misalnya penyakit von Hippel-Lindau (VHL) syndrome, tuberous sclerosis, dan lain-lain penyakit turunan karena faktor genetik

Gejalah Penyakit Kanker Ginjal

Gejalahnya meliputi :Ada darah didalam urine
Teraba adanya massa didaerah perut
Nyeri disisi tubuh yang terus menerus
Kehilangan nafsu makan dan berat badan yang menyusut tanp sebab yang jelas
Kurang darah atau AnaemiaPengobatan Kanker GinjalJuga sangat tergantung stadium sewaktu penyakit ini ditemukan. Biasanya dengan pembedahan, obat-obatan khemotherapi, imunotherapi dan lain lain.Pada tahun 2012 juga diumumkan telah ditemukannya vaksin untuk mengobati penyakit kanker ginjal, yaitu :IMA901, yang diproduksi oleh Immatics Biotechnologies, untuk pengobatan  kanker ginjal /Renal cell carcinoma

Dengan pemberian vaksin ini, diharapkan pasien menjadi lebih responsif terhadap pengobatan primer anti kanker dan mempunyai masa harapan hidup yang lebih baik dan lebih panjang.
Vaccine Saves Lives !
SELESAI
Source:
http://www.selukbelukvaksin.com
Kompasiana.com

Ganasnya Kanker Payudara pada Pria

Oleh:M Rifki Ryanto

GANASNYA KANKER PAYUDARA PADA PRIA

Jika kita mendengar kata kanker, yang terbayangkan oleh kita pasti sebuah penyakit mematikan yang sudah banyak memakan korban jiwa hingga saat ini. Akan tetapi dapatkah anda bayangkan jika penyakit yang biasa muncul pada wanita ternyata muncul juga pada pria, yaitu kanker payudara. Sedikit geli dan aneh jika mendengar pernyataan ini, pria yang tidak memiliki payudara bisa terkena penyakit itu.
Masih ada yang tidak percaya ? baiklah akan saya buktikan.

Kanker payudara pada pria kebanyakan menyerang pada pria berumur lanjut yg rata-ratanya berumur 63 tahun, berbeda dengan wanita yang rata-rata menyerang pada umur 59 tahun. Kanker payudara yang menyerang pria lebih mematikan daripada wanita. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amerika Serikat memperkirakan kanker ini akan menyerang 1 dari 1000 pria, sangat jarang akan tetapi sangat mematikan.
Banyak pria tidak tahu bahwa mereka bisa mendapatkan kanker payudara, dan beberapa dokter berpendapat sama.“Mereka kerap mengabaikan gejala yang timbul,”kata Jon Greif, ahli bedah kanker asal Oakland, California, yang memimpin penelitian.

Para peneliti menganalisis 10 tahun data nasional mengenai kasus kanker payudara mulai tahun 1998 sampai 2007. Sebanyak 13.457 pasien pria didiagnosis selama kurun waktu itu, dibandingkan 1,4 juta wanita. Database berisi sekitar 75 persen dari semua kasus kanker payudara Amerika Serikat.
Orang-orang yang diteliti hidup rata-rata sekitar delapan tahun setelah didiagnosis, dibandingkan dengan lebih dari 10 tahun untuk wanita. Studi tidak menunjukkan apakah pasien meninggal karena kanker payudara atau yang lain.

Penyebab kanker payudara pada pria masih belum dapat diketahui,akan tetapi ada tanda-tanda kemunculan kanker tersebut. Kanker payudara pria biasanya muncul sebagai benjolan di bawah atau dekat puting. Puting dan payudara yang cacat atau tidak wajar bentuknya juga menjadi tanda-tanda awal yang harus diwaspadai.

Source : Kompasiana.com

Pengalamanku Mengobati Kanker Payudara

Oleh:Isyesoentoro

Jenny Laloan 54 Tahun

Aku memang sudah bertekad untuk menyembuhkan kanker yang kuderita tanpa pertolongan dokter! Aku akan menjauhi obat-obat kimia, aku menolak untuk di kemoterapi! Biar pengobatan kulakukan dengan cara sendiri, melalui doa pada Allah agar ia mau memberi petunjuk. Dialah dokter segala dokter.

Namaku Jenny Laloan, usiaku saat ini 54 tahun. Aku ingin sekali berbagi dengan teman-teman pengalamanku saat menghadapi penyakit yang sangat ditakuti semua orang, yaitu kanker payudara! Sedikit kuberi tahu latar belakangku, aku seorang perokok berat dan pemakan daging, ikan dan segalanya, tak ada pantangan. Termasuk keju yang sangat kusuka. Sampai suatu saat, di tahun 2000 aku tinggalkan semua kebiasaan buruk itu. Aku berhenti merokok dan berpantang daging juga keju, telur, susu dan gula putih! Aku juga tak mengerti mengapa bisa kulakukan semua tanpa ada penyebabnya.

Semua itu kutinggalkan hanya karena ingin hidup sehat. Cukup.Dua tahun setelah kutinggalkan kebiasan buruk merokok dan makan apa saja yang kumau. Kurasakan ada sesuatu yang berbada dengan tubuhku. Kulihat payudaraku membengkak besar, kulit tubuhku kok seperti kulit jeruk. Lalu setiap sore terasa seperti mau flu, mataku berair seperti mau menangis. Lalu kurasakan sakit pada puting susuku, kupikir mau mens, tapi kok sakitnya berbeda. Sampai akhirnya aku mendengar di radio Sonora, disana ada acara yang sedang membahas tentang penyakit kanker payudara.

Aku sangat terkejut, karena ternyata yang diungkapkan di radio sangat tepat dengan gejala yang kurasakan. Di sana juga disebutkan bahwa jenis kanker dengan bengkak yang besar merupakan jenis kanker yang berat, ketimbang kanker payudara yang dimulai dengan benjolan kecil. Karena kanker yang dimulai dengan benjolan kecil bisa dideteksi perkembangannya, berbeda dengan jenis kanker yang tiba-tiba membengkak besar, sulit dideteksi. Tiba-tiba saja bengkak dan membesar!Mendengar siara di Radio Sonora ini dadaku langusng berdetak kencang, aku terkena kanker berbahaya! Tubuhku lemas dan sedikit gemetar, ketakutan tentunya.

Aku tak tahu harus berobat bagaimana, tetapi di hati kecilku sudah kuputuskan, aku menolak pengobatan kimia! Aku tak akan ke dokter untuk memeriksanya, karena sudah kupastikan sarannya adalah agar aku diobati, disinar dan sebagainya. Aku tak mau itu terjadi dalam diriku. Aku punya kakak ipar yang mengalami penyakit yang sama, bahkan sudah membesar seperti anggur, ngeri sekali melihatnya. Ia mengobatinya ke dokter dan dikemo, aku saksikan penderitaannya. Ah, aku tak ingin seperti dia, aku ingin dengan cara alami.

Aku berdoa pada Tuhan. Kukatakan, Tuhan aku ingin sembuh tapi tak ingin obat kimia. Tolong saya Tuhan. Jawaban saya terkabul. Suatu hari seorang teman menelpon dan menanyakan apakah benar saya terkena kanker payudara. Ketika saya jawab ya! Ia langsung menyarankan agar saya mengikuti terapi juice yang resepnya ia dapatkan dari sebuah buku yang ditulis seorang dokter, dr. Nainggolan. Teman itu lalu mengirimkan bukunya, dan semenjak saat itu saya ikuti petunjuk yang diwajibkan. Tetapi karena ingin segera sembuh saya lalukan lebih dari yang diminta.

Seperti ketika diharuskan mengikuti cleansing selama sekali dalam tiga bulan, aku lakukan itu sekali dalam sebulan. Lalu jaduwal cleansing tiga hari kubuat menjadi lima hari. Semua ini kujalani karena kutahu bahwa penyakitku sudah cukup berat jadi aku harus berusaha lebih giat dan lebih keras!Cleansing kulakukan dengan hanya minum juice pepaya&wortel selama tiga hari. Aku tak makan dan minum apa-apa selain juice itu. Lalu di hari ke empat terapi air putih, dalam sehari aku hanya minum air putih. Tak makan apa-apa selain minum air putih. Selama cleasing aku begitu tertib menjalaninya, karena aku ingin sembuh. Pada hari ke lima aku mulai mengikuti terapi juice bagi penyakit kanker sesuai petunjuk buku dr. Nainggolan.

Selama tiga bulan kulakukan seperti itu, cleansing sebulan sekali lalu meminum juice resep untuk penyakit kanker. Untuk lebih rinci isi dari juice tersebut nanti saya akan berikan resepnya secara terpisah agar mudah untuk diterapkan. Tak ada nasi atau roti atau makanan lain yang kumakan, semua melulu hanyalah juice yang disarankan. Berat badanku memang turun drastis, tetapi tak seorang pun melihat wajahku kuyu seperti orang sakit, mereka justru melihat wajahku yang segar, berseri.Ingin tahu bagaimana rasanya sakit dari penyakit kanker? Wuih…amat teramat sangat sakitnya, seperti di strum lalu di putar-putar agar kian menderita, sehingga terasa sakit hingga kelangit! Kalau mengikuti kedahsyatan sakitnya sungguh mengundang rasa putus asa.

Ketika bengkaknya semakin membesar aku coba konpres dengan bubur nasi, setiap malam kulakukan, paginya kulihat handuk yang membalutnya basah berair. Setelah itu aku ganti kompres di hari berikutnya dengan parutan pare, sama juga, begitu banyak air yang tersedot keluat, membasahi handuk penutupnya. Aku berhenti mengompres ketika bengkak pada payudaraku pecah, tepatnya terbelah menyerupai dua onggok daging dengan pemandangan seperti sumur, berlubang pada bagian tengah. Ngeri sekali melihatnya, tetapi aku tak putus asa untuk terus menjalankan pengobatan melalui terapi juice. Setiap teman yang melihat luka terbelah pada payudaraku menyarankan agar aku segera ke dokter agar luka itu bisa dijahit.

Aku menolak, aku memilih menjemurnya di pagi hari, tepat di bawah sinar matahari. Kujemur luka itu secara terbuka, kukenakan baju mirip baju tarzan. Bersyukur aku bisa menjemur diri di dalam rumah tanpa dilihat orang yang lalu lalang.Setelah satu bulan berlalu luka terbelah itu merapat dengan sendirinya, kemudian berangsur mengering dan sembuh dengan sendirinya. Tertutup dan hanya menyisakan bekas luka biasa, sedikit memanjang.

Aku syukuri dokterku yang ajaib, Allahku yang hebat dan dahsyat! Selain luka yang tertutup aku pun tak lagi merasakan nyeri yang teramat sangat akibat kanker payudara tersebut. Memasuki bulan keempat aku mulai makan, dalam pengertian mulai mengunyah, tak sekedar terapi juice. Meski makanan yang kukunyah adalah sayur-sayuran berupa salad. Kubuat dengan campuran bawang merah dan putih lalu diberi cabai sedikit dan perasan air jeruk. Bila ingin minyak kucampurkan dengan sedikit minyak zaitun. Itulah makanan tambahanku di bulan ke empat. Aku tetap berpantang makan nasi dan lauk pauk juga kue-kue dan lain sebagainya.Memasuki bulan ke lima, aku mulai berani makan nasi, meski sebagai peneman nasi aku makan gado-gado, atau ketoprak.

Bulan ke enam kurasakan kanker payudara itu telah lenyap dari kehidupanku. Betapa senangnya aku. Namun, aku tetap menjaga makananku dengan berpantang daging, aku hanya makan ikan, itu pun tidak berlebihan. Aku pun tetap melakukan cleansing sekali dalam tiga bulan dan banyak minum air putih. Terutama adalah berpantang gula putih! Aku memilih minum banyak air putih. Dan juga istirahat yang cukup. Pola hidup sangat berpengaruh pada kesehatan dan aku harus mempertahankan agar pola hidup yang kujalani adalah pola hidup sehat, dan ternyata tak sulit, juga tak mahal. Yang utama adalah kemauan! Hingga saat ini lebih dari sepuluh tahun kulalui kehidupan setelah menderita kanker payudara.

Senang sekali mendapat kesempatan untuk merasakan hidup kembali yang hampir saja terengut dari diriku.Semoga pengalamanku ini dapat berguna bagi mereka yang mengalami nasib serupa. Berdoalah dan berusahalah Tuhan kelak menunjukkan jalan terbaik.*) Resep juice terapi akan kubagikan dalam tulisan terpisah.

Source : Kompasiana.com

Penyuluhan Sadari Kanker Payudara Sejak Dini

Oleh:Muhammad Jundi

CIPUTAT – Sebagai wujud kepedulian terhadap kaum wanita yang rentan terhadap penyakit kanker payudara, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa memberikan penyuluhan “Sadari Kanker Payudara” sejak dini. Penyuluhuan digelar dalam rangka menyambut Milad LKC Dompet Dhuafa ke 11, pada 6 November mendatang.Penyuluhan berlangsung,Sabtu,(20/9) di Gedung PLN Area Pelayanan Jaringan (APJ) Depok, Jawa Barat yang diikuti oleh anggota Persatuan Istri Pegawai PLN APJ wilayah Depok, Jawa Barat yang diketuai oleh Sinung Yuwono .

Sebelumnya LKC Dompet Dhuafa juga menggelar acara yang sama di seluruh Pos Sehat dan Gerai Sehat jejaring LKC Dompet Dhuafa, salah satunya Pos Sehat Pedati, Jakarta Timur, Rabu,(11/9) lalu.Penanggung Jawab Program Penyuluhan, Bidan Rohayani mengatakan, “Penyuluhan ini sangat penting dan berguna bagi masyarakat sekitar, khususnya untuk kaum wanita, karena kanker payudara merupakan penyakit kanker yang diderita oleh wanita terbesar kedua setelah kanker serviks”.Selain itu, kata Rohayani melanjutkan, penyuluhan ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko penyebab kanker payudara, mengetahui gejala kanker payudara, mengetahui deteksi dini kanker payudara dengan periksa sendiri (SADARI).

Materi penyuluhan yang disampaikan oleh petugas medis LKC Dompet Dhuafa, dr. Arum Puspitasari dan Suster Rahayu, terkait tentang pentingnya kaum wanita untuk mendeteksi sejak dini tanda-tanda dan gejala kanker payudara.Dalam penyulahannya dr. Arum Puspitasari menyampaikan mengenai definisi-definisi  dan tanda-tanda penyakit kanker payudara. Dan mengatakan bahwa kanker payudara adalah kanker yang mematikan bagi perempuan setelah kanker rahim.“Jika ada tanda-tanda muncul benjolan di payudara atau sekitar ketiak harus segera diperiksa ke tenaga medis terdekat. Dan jangn takut untuk memeriksakannya karena semakin cepat diperiksa, semakin cepat ditangani dan semakin cepat tingkat kesembuhannya, UngkapnyaUsai kegiatan penyuluhan, salah seorang peserta yang mengikuti penyuluhan mengungkapkan rasa terima kasih kepada LKC Dompet Dhuafa yang telah mengadakan penyuluhan kanker payudara.

œSaya bisa mendapatkan pengetahuan dan dapat mewaspadai kanker payudara serta cara pencegahannya sejak dini” kata Ibu Uun kepada Tim Media LKC Dompet Dhuafa, usai mengikuti penyuluhan. – MJund

iLink berita : http://www.lkc.or.id

Source : Kompasiana

SKRINING DAN DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA DENGAN TEKNOLOGI TELEMAMMOGRAFI

Oleh:Agustin Rami

Agustine Ramie
Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia Tahun 2011- 2012

ABSTRAK
Telemedicine merupakan pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan kesehatan jarak-jauh. Telemedicine mengubah cara pemberian pengobatan dan pendidikan kesehatan dengan mengeliminir masalah jarak dan waktu serta memungkinkan para dokter dan petugas terkait termasuk perawat dalam melaksanakan riset klinis yang terhubung satu sama lainnya walaupun terpisah secara geografis serta menggunakan bersama record pasien dan citra diagnostik. Pilihan telekomunikasi yang menggunakan ACTS (Advanced Communications Technology Satellite ) mengaplikasikan telemedicine via satelit adalah Telemammography yang mendemonstrasikan pengiriman citra mammografi (untuk mendeteksi kanker payudara secara dini) dengan resolusi tinggi dari daerah pedesaan atau kota kecil ke kota yang memiliki fasilitas memadai menggunakan jaringan akses satelit.

Keberhasilan program ini membutuhkan integrasi antara satelit dan infrastruktur terestrial di institusi/rumah sakit, pemrosesan citra, keamanan data pasien, juga perangkat lunak yang mengontrol proses screening. Implikasi bagi tenaga keperawatan adalah perawat menjalankan tugas sebagai advocate bagi pasien, ketika hak-hak pasien dilanggar akibat penggunaan teknologi informasi ini.

A. Latar Belakang

Kanker sebagai penyakit tidak menular merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang. Salah satu kanker yang mengkhawatirkan karena sering menimbulkan kematian pada wanita adalah kanker payudara. Di Indonesia, kanker payudara menduduki posisi pertama sebagai penyebab kematian tertinggi pada wanita akibat kanker. Angka kematian akibat kanker payudara cukup tinggi karena banyak pasien datang dengan kondisi terlambat.. Menurut data patologi anatomi di 13 Rumah Sakit terbesar di Indonesia yang menunjukkan bahwa jenis kanker pasien rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia tahun 2004 tertinggi adalah kanker payudara sebanyak 5.196 kasus dengan jumlah kematian 367 (CFR=7,06%).
Di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta tahun 2007 kanker payudara merupakan urutan pertama dari seluruh kasus kanker yaitu 437 kasus dengan proporsi 34,57%. Banyak penelitian menunjukkan bahwa deteksi dini kanker payudara dapat menyelamatkan ribuan bahkan jutaan nyawa setiap tahunnya. Deteksi dini dapat dilakukan denagn berbagai cara, salah satunya adalah dengan mammografi yang dapat mendeteksi sampai 90 % kasus kanker payudara. Mammografi merupakan suatu cara pemeriksaan payudara menggunakan sinar X yang dapat memperlihatkan kelainan pada payudara dalam bentuk terkecil yaitu mikrokalsifikasi. Hasil dari citra mammografi adalah film ( mammogram ) yang dapat diinterpretasi oleh dokter bedah atau dokter ahli radiologi. Mammografi biasanya dilakukan oleh petugas ketika klien secara khusus datang ke RS atau tempat pelayanan mammografi secara langsung. Wanita yang jauh di pedesaan atau kota kecil akan mengalami kendala terkait jarak tempuh ke tempat pemeriksaan, ditambah lagi kekurangan atau tidak tersedianya ahli radiologi yang berpengalaman untuk menginterpretasi citra/ image yang dihasilkan oleh mammogram.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka telah dikembangkan teknologi telekomunikasi yang disebut telemedicine untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak-jauh. Telemedicine adalah praktik kesehatan dengan memakai komunikasi audio, visual dan data. termasuk perawatan, diagnosis, konsultasi dan pengobatan serta pertukaran data medis dan diskusi ilmiah jarak jauh.

Aplikasi telemedicine yang dikembangkan berdasarkan eksperimen adalah telemammografi yang mendemontrasikan pengiriman citra mammografi resolusi tinggi dari daerah pedesaan ke kota menggunakan jaringan akses satelit. Dengan adanya telemammografi akan memberikan kemudahan bagi masyarakat sebagai pengguna layanan. Petugas kesehatan terkait antara lain dokter, termasuk perawat maternitas mempunyai andil yang besar terutama untuk menindaklanjuti hasil pemeriksaan.

B. Kajian Literatur

1. Skrining dan deteksi dini kanker payudara
Skrining (screening) adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis belum jelas dengan menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat tetapi sesunguhnya menderita suatu kelainan (http://www.news-medical.net/health /2011) Test skrining dapat dilakukan dengan pertanyaan (anamnesa), pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

2. Telemedicine

Telemedicine adalah praktik kesehatan dengan memakai komunikasi audio, visual dan data. termasuk perawatan, diagnosis, konsultasi dan pengobatan serta pertukaran data medis dan diskusi ilmiah jarak jauh.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat dipahami bahwa cakupan telemedicine cukup luas, meliputi penyediaan pelayanan kesehatan (termasuk klinis, pendidikan dan pelayanan administrasi) jarak jauh, melalui transfer informasi (audio, video, grafik), dengan menggunakan perangkat-perangkat telekomunikasi (audio-video interaktif dua arah, komputer, dan telemetri) dengan melibatkan dokter, pasien dan pihak-pihak lain. Secara sederhana, telemedicine sesungguhnya telah diaplikasikan ketika terjadi diskusi antara dua dokter membicarakan masalah pasien lewat telepon. (Wikipedia, 2011)

Manfaat telemedicine : terdapat 3 aspek manfaat yang saling terkait satu sama lain yaitu pasien, dokter dan rumah sakit. Manfaat langsung bagi pasien adalah:
a. Mempercepat akses pasien ke pusat-pusat rujukan.
b. Mudah mendapatkan pertolongan sambil menunggu pertolongan langsung dari dokter-dokter pribadi.
c. Pasien merasakan tetap dekat dengan rumah dimana keluarga dan sahabat dapat memberikan dukungan langsung.
d. Menurunkan stres mental atau ketegangan yang dirasakan di tempat kerja.
e. Menseleksi antara pasien-pasien yang perlu dibawa ke rumah sakit dan pasien yang tidak perlu perawatan di rumah sakit akan tetap tinggal di rumah.

3. Telemammografi

Telemammografi merupakan salah satu pengaplikasian telemedicine via satelit atau ACTS (Advanced Communications Technology Satellite) yang mendemontrasikan pengiriman citra mammografi resolusi tinggi dari daerah pedesaan ke kota menggunakan jaringan akses satelit. Mammografi adalah citra radiologi yang dapat membantu pendeteksian kanker payudara dalam tahap dini namun membutuhkan ahli radiologi yang berpengalaman untuk menginterpretasikan citra tersebut yang tidak selalu tersedia didaerah pedesaan atau kota kecil. teknologi ini menghubungkan tempat screening di kota kecil atau pedesaan dengan suatu institusi medis di kota besar (Leader, 2006)

4. Aplikasi Telemammografi

Teknolog di fasilitas remote (pencitraan/imaging klinik pada wanita) mengidentifikasi wanita yang mungkin perlu prosedur pencitraan tambahan untuk menyelesaikan skrining mamografi selama pemeriksaan dengan film mammographic untuk jaminan kualitas (QA).
Teknolog digitalis ini menginput input data pasien dalam bentuk data komputer, menyusun pesan (teks dan grafis) yang menggambarkan jenis temuan dan lokasi yang menjadi perhatian, laporan tersebut discan. Informasi dan hasil computerassisted deteksi (CAD) terdeteksi dan ditransmisikan ke situs pusat. Di situs pusat, radiolog meninjau data gambar mammographic melalui pesan teks dan grafik. Ada 3 monitor Workstation yang secara khusus dirancang untuk melakukan tugas ini. Ahli radiologi kemudian merespon data dari teknolog dengan prosedur tambahan yang direkomendasikan.

Remote Site

a. Hardware (perangkat keras)
Perangkat keras situs remote termasuk komputer pribadi (Athlon 900, Advanced Micro Device, Sunnyvale, CA, USA) beroperasi di bawah Microsoft Windows 2000 dan Workstation terhubung ke resolusi tinggi-, laser film digitizer (Lumiscan 85, Eastman Kodak, Rochester, NY, USA) dan dokumen scanner (HP Scanjet 5470c scanner, Hewlett-Packard Company, Palo Alto, CA, USA).

Komputer ini dilengkapi dengan modem 56 K untuk transfer data melintasi garis Plain Old Telephone System (POTS) analog dan jaringan Ethernet card untuk transfer data di local area network (LAN). The digitizer film dan scanner dokumen dilengkapi dengan film otomatis dan pengumpan dokumen untuk pemindaian film dan beberapa halaman laporan masing-masing.

b. Gambar mammographic Digitalisasi dan Gambar pengolahan

Pada tempat remotenya film mammografi digital pada 50-mm pixel ukuran selama kepadatan optik berkisar 0 – 4,0 OD (kisaran berguna 0.15Y3.7 OD) yang biasanya berkisar antara 0,15 – 3,7 OD. Gambar digital tersebut secara otomatis dihasilkan untuk menurunkan area yang tidak lembut dan tertekan pada rasio 75 : 1 menggunakan metode JPEG 2000.

c. System Operasi

System operasi telemammografi ini memiliki 3 lokasi transmite data melalui LAN, kualitas gambar, konfigurasi tampilan gambar, efek dari pemprosesan gambar dan keistimewaan system telemammografi secara umum dapat diterima dengan baik dan dipertimbangkan lebih adekuat untuk mereview skinning pemeriksaan mammografi dengan radiologi. Keistimewaan dari maknifikasi telemammografi memberikan review yang mendetail terhadap pola jaringan payudara pada gambar dengan resolusi penuh seperti gambar dengan 50-mm pixel. Jendela pesan memberikan komunikasi efektif antara lokasi remote dan lokasi sentral dan dapat mengoperasikan pada waktu yang tepat.

d. Hasil

Teknologist dapat mengidentifikasi wanita yang melakukan pemeriksaan skiring mammografi dengan tambahan prosedur imaging yang dibutuhkan. Radiologist pada lokasi sentral dapat menurunkan sejumlah wanita yang direkomendasikan oleh teknologist yang tidak perlu menggunakan tambahan prosedur dengan system telemammografi untuk menginterpretasikan pemeriksaan tambahan dari gambar imaging mammografi dari pemeriksaan skrining yang utama yang tepat memberikan efek positif yang besar pada performan radiologis ketika menginterpretasikan kasus menggunakan system telemammografi yang dibandingkan dengan informasi yang sudah didapat seperti riwayat pasien, hasil observasi dari radiologist.DAFTAR PUSTAKA
Isao Nakajima, Yuhsuwke Sawada, Hiroshi Juzoji, “Outline of AMINE:Asia-Pasific Information
Network via ETS-V”, AIAA Electronic Library, Vol.3,No.2,1998
Jong.A.R,&Yaffe.J.M.(2005). Digital Mammography: 2005. Canadian Association Radiologists
Journal; Dec 2005; 56, 5; ProQuest. Pg. 319Leader K.J, et all.(2006). A Multisite Telemammography System for Remote Management of Screening Mammography: An Assessment of Technical, Operational, and ClinicalIssues. Journal of Digital Imaging, Vol 19, No 3
López.M.A. (2009). Virtual slide telepathology enables an innovative telehealth rapid breast care
clinic. Human Pathology 40, 1082–1091. Elsevier. USA
Mea.D.V. (2005). Prerecorded Telemedicine. Journal of Telemedicine and Telecare; 11, 6;
ProQuest Psychology Journals pg. 276
Robert J. Kerczewski, Gerald J.Cosmos, Paul G.Mallash, Duc H.Ngo. (1998). “Operational
Scenarios and implementation issue for T1-Rate Satellite Telemammography”, AIAAElectronic Library, Vol.3, No.2.Sentis.M. (2010). Imaging diagnosis of young women with breast cancer. Breast Cancer Res
Treat. 123:11–13
Weinstrein S.R, et all. (2009). Overview of telepathology, virtual microscopy, and whole slide
imaging: prospects for the future. Elsevier. USAWikipedi (2011). Telemedicine. The free encyclopedia.http://www.news-medical.net/health/Breast-Cancer-Screening-(Indonesian). diakses tanggal 02 Nopember 2012
http://teknik-informatika.com/teknologi-informasi-bidang-kesehatan/ diakses tanggal 30 Oktober 2012

Source : Kompasiana

Teraphy Meremas Payudara Hentikan Sel Kanker ?!

Oleh:Muhammad Nur,se

Membaca Vivalife dalam kolom Health and Sex  sungguh  membuat Saya terperangah dan merasa  bagai mendapat durian runtuh sudah sejak  setahun yang lalu Saya rajin berselancar di Internet untuk mencari-cari alternatif penyembuhan kanker Payudara selain dioprasi diangkat atau Radiasi.Kalau Pembaca bertanya kok bisa begitu Ya ? jawabnya karena beberapa kasus Kanker Payudara menimpa Isteri kerabat dan sahabat yang kemudia berakhir dengan tragis setelah melalui berbagai pengobatan kembali kambuh adajuga yang setelah operasi kepercayaan dirinya menjadi berkurang karena tidak memiliki payudara sebagai lambang keseksian seorang Wanita.

Lebih baik mencegah daripada mengobati itu kata-kata klasik yang terus tertanam dalam hati Saya mengenai penyakit, dengan menemukan  artikel upaya preventif untuk menghentikan sel kanker payudara berdasarkan hasil studi bahwa meremas payudara mungkin dapat menghentikan sel-sel kanker payudara ganas, hal ini merupakan kegembiraan tersendiri  bagi Saya bila bisa berbagi  kepada sahabat, kerabat dan handai taulan agar mereka bisa mengetahui sedini mungkin cara yang paling gampang, dan tidak membutuhkan dana untuk mencegah serangan kanker pada payudara sedini mungkin, istilahnya sedia payung sebelum hujan.Katanya dalam suatu percobaan di laboratorium didapatkan  bahwa“  penerapan tekanan fisik pada sel menuntun mereka kembali ke pola pertumbuhan normal .

Para ilmuwan percaya bahwa penelitian ini memberikan petunjuk yang bisa mengarah pada pengobatan baru kanker payudara“.“Selama berabad-abad, orang-orang telah percaya bahwa kekuatan fisik dapat mempengaruhi tubuh kita,”ucap Gautham Venugopalan, anggota terkemuka dari tim peneliti University of California di Berkeley, Amerika Serikat seperri dikutip dari Vivalife.“Ketika kita mengangkat beban, maka otot kita menjadi lebih besar. Gaya gravitasi sangat penting untuk menjaga tulang kita agar tetap kuat. Inilah yang menunjukkan bahwa kekuatan fisik dapat memainkan peran dalam pertumbuhan dan pengembalian sel kanker,”jelasnya.”Dalam study tersebut dengan melibatkan pertumbuhan sel-sel ganas seperti sel sel epitel dalam gel silikon yang disuntikkan ke ruang yang fleksibel. 

Hal ini memungkinkan para ilmuwan untuk menerapkan kompresi pada tahap pertama pertumbuhan sel, yaitu secara efektif meremas sel. Seiring waktu, sel-sel ganas yang diremas mulai tumbuh dalam cara yang lebih normal dan terorganisir. Setelah struktur jaringan payudara dibentuk, sel-sel ganas tadi berhenti tumbuh, bahkan ketika gaya tekan telah dihentikan. Sementara, sel yang tidak dikompresi akan terus menampilkan pertumbuhan serampangan dan tidak terkendali yang mengarah ke kanker.

Kalau benar Teraphy Meremas Payudara untuk menghentikan kanker ini dilakukan oleh para peneliti melalui study penelitian yang akurat sebagaimana dikemukakan oleh  Mr Venugopalan Hasil dari penelitian ini sudah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society for Cell Biology di San Francisco, apa salahnya kalau dicoba diterapkan asal tidak memiliki efek samping, dan jangan lupa sebelum mencoba tanya dulu pada dokter akhli penyakit kanker ! Pendapat Pembaca ?

Source : Kompasiana

Terselamatkan oleh “Second Opinion”

Oleh:Nurul Kartikaningsih

Sekitar sebulan yang lalu seorang kerabat, sebut saja Tya, 41 tahun, datang pada saya dan mengeluhkan bahwa payudara kanannya membengkak dan terasa nyeri layaknya ibu yang sedang menyusui. Istilah bahasa Jawanya ngrangsemi. Padahal ia tidak sedang menyusui. Anak bungsunya telah berusia 6 tahun. Kondisi itu telah berlangsung sekitar dua bulan. Tentu saja pikirannya kalut, bayangan penyakit kanker payudara memenuhi pikirannya.

Terdorong oleh perasaan iba, saya mengantarkannya untuk memeriksakan diri ke sebuah Yayasan Kanker di Surabaya. Di sana ia diperiksa oleh Dr. Jetty  dan direkomendasikan untuk melakukan tes FNA di sebuah laboratorium. Tak mau membuang waktu, kami langsung menuju laboratorium yang dimaksud. Setelah menunggu beberapa lama, Tya mendapat giliran untuk diperiksa. Dokter yang bertugas mengambil sampel cairan dari puting susu Tya menggunakan spet dan langsung memeriksanya di bawah mikroskop. Kami menunggu beberapa waktu untuk memperoleh hasilnya.

Di ruang tunggu kami bertemu dengan dua orang pasien dengan keluhan yang sama – seputar benjolan di payudara. Yang seorang, ibu-ibu berusia sekitar 60 tahun. Seorang lagi seorang ibu, sebut saja Iffah, 43 tahun. Iffah tak berkeberatan membagi pengalamannya pada kami. Ia menemukan sebuah benjolan di payudara kanannya sejak setahun yang lalu.

Benjolan berdiameter 3 cm itu membuatnya gelisah. Maklum, seorang kakak perempuan – yang juga mengantarnya periksa – telah mengalami operasi pengangkatan payudara karena kanker ganas stadium 3A sepuluh tahun yang lalu. Sejauh ini kakak perempuan Iffah berhasil survive dari kanker ganas tersebut. Menurut Dokter yang mengoperasi, ada kemungkinan keluarga (bisa saudara atau anak) perempuannya akan mengalami hal yang sama (terkena kanker payudara).

Berhubung waktu itu Iffah belum memiliki keberanian untuk operasi, maka ia membiarkan saja benjolan di payudara kanannya. Selang setahun, baru ia berani memeriksakan diri ke seorang Dokter Spesialis Bedah yang dulu menangani penyakit sang kakak, sebut saja Dokter X. Dokter X memiliki sebuah klinik bedah umum yang bertempat di rumah pribadinya di Surabaya. Dari sana ia dirujuk untuk menjalani tes FNA di laboratorium dimana kami bertemu. Setelah memperoleh hasil lab ia berencana langsung kembali menuju klinik bedah umum milik Dokter X. Sedangkan Tya sendiri baru dua hari kemudian dijadwalkan kontrol ke Dr. Jetty di Yayasan Kanker dengan membawa hasil lab.

Hasil lab Iffah dan Tya sama. Diagnosisnya adalah mastitis non specific. Tidak ada tanda-tanda ganas. Bedanya benjolan di payudara Iffah berdiameter 5 cm, sedangkan Tya 3 cm.
Iffah menyarankan Tya agar ikut memeriksakan diri ke Dokter X sambil menunggu jadwal kontrol ke Yayasan Kanker dua hari lagi. Menurutnya Dokter X teliti dalam melakukan pemeriksaan. Selain itu biaya operasi di sana dikenal sangat murah.
Akhirnya Tya memutuskan untuk ikut Iffah ke klinik bedah Dr. X. Kami pun menuju ke klinik tersebut bersama-sama. Setelah beberapa jam menunggu karena ada dua pasien yang sedang menjalani operasi kaki, Iffah masuk ke ruangan periksa. Sekitar setengah jam kemudian ia keluar sambil menyampaikan pada kami bahwa ia akan menjalani operasi biopsi keesokan harinya dengan biaya Rp. 5 juta. Saya lihat wajah Tya pucat seketika. Sekuat tenaga saya berusaha menenangkannya saat kami akan masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana tampak menunggu Dokter X dan seorang perawat laki-laki. Beliau menanyakan banyak hal tentang keluhan yang dialami Tya. Di antaranya: sejak kapan keluhannya muncul, apakah Tya merasakan demam, dan bagaimana rasa sakitnya. Dokter X pun memeriksa Tya dibantu oleh perawat tadi.

Selesai memeriksa, dimulailah ‘teror’ menakutkan itu.
Menurut Dokter X hasil lab keakuratannya hanya 60-70 persen saja (beliau hanya melihat sekilas saja lembaran hasil tes FNA). Meskipun hasil lab menyatakan benjolan di payudara Tya tidak ganas, belum tentu benjolan itu memang benar-benar tidak ganas. Dari hasil pemeriksaannya, Dokter X mengatakan bahwa kemungkinan justru benjolan di payudara Tya adalah ganas dan sudah menjalar ke ketiak dan leher (padahal Tya merasa tidak ada keluhan di ketiak dan leher).  Apalagi Tya tidak mengeluhkan demam seperti tanda-tanda mastitis pada umumnya. Dokter X memvonis Tya harus melakukan biopsi (pengangkatan benjolan) secepatnya dengan alasan bila memang ia mengidap kanker ganas, maka kanker akan cepat menjalar karena payudara sudah diganggu dengan jarum suntik saat pengambilan sampel di lab. Setelah dilakukan biopsi, akan diadakan pemeriksaan lab lebih lanjut selama seminggu untuk memastikan apakah jaringan yang diangkat jinak atau ganas. Kalau memang ganas, maka payudara kanan Tya harus diangkat seluruhnya.

Ovarium (indung telur) juga harus diangkat. Saat kami menanyakan, kalau memang benar-benar kanker, Tya sudah memasuki stadium berapa, Dokter X menyebutkan sebuah angka yang membuat Tya semakin pucat pasi: 3A! Blassst.. Lemaslah Tya.
Dokter X menyarankan biopsi harus dilakukan secepatnya sambil menunjukkan foto-foto pasien penderita kanker payudara yang membuat jantung deg-degan, kepala berdenyut-denyut dan perut mual-mual. Keluar dari ruang pemeriksaan, saya harus memapah Tya yang sudah kelihatan limbung dan mengantarnya pulang. Malam itu benar-benar menjadi mimpi buruk untuk Tya. Ia stress dan tak bisa tidur semalaman. Bayang-bayang kanker payudara yang menggerogotinya hingga stadium 3 A begitu nyata di depan mata. Sedangkan ketiga anaknya masih kecil-kecil.

Sebagai seorang kerabat saya berusaha keras untuk menghiburnya. Karena bila ia sampai stress, maka penyakitnya bisa-bisa malah semakin parah. Saya menghubungi beberapa kenalan dan saudara yang memiliki kisah berkenaan dengan penderita kanker payudara. Browsing internet juga kami lakukan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya. Dari berbagai kisah dan sumber yang saya peroleh, saya berani mengatakan kalau Dokter X bisa saja salah telah menyebut Tya mengalami kanker stadium 3A. Dari ciri-ciri fisik yang saya amati pada payudara Tya, saya cocokkan dengan ciri-ciri yang saya peroleh dari berbagai sumber di internet. Sepertinya Tya tidak separah itu.

Dari internet pula kami mengetahui kalau mastitis itu adalah radang payudara, bukan kanker payudara, meski ada beberapa kasus mastitis yang bisa menjadi indikasi kanker. Lalu kami mencoba untuk berpikir logis dan tidak terburu nafsu. Menurut Dokter X, kepastian sebuah benjolan adalah ganas atau jinak harus melalui serangkaian tindakan: biopsi dan pemeriksaan jaringan. Berarti vonis kanker stadium 3A dari Dokter X belumlah valid, karena hanya berdasarkan pemeriksaan fisik saja. Sebagai orang awam, saya juga menganalogikan dengan sakit gigi, gigi yang sakit tidak boleh dicabut bila terjadi peradangan gusi. Butuh antibiotik dulu untuk menyembuhkan radang, baru gigi boleh dicabut. Menurut saya, begitu juga dengan kasus Tya. Peradangan harus disembuhkan dulu, baru boleh diambil tindakan. Benar atau tidaknya wallahu a’lam bishawab.
Berdasarkan logika itu, saya menyarankan Tya untuk tidak mengambil keputusan yang terburu-buru.

Apalagi suami Tya sedang bertugas di luar kota. Saran Dokter X untuk melakukan tindakan biopsi akhirnya kami kesampingkan. Tya akhirnya menuruti saran saya dan memutuskan untuk mengambil second opinion. Meminta pendapat dokter lain mengenai penyakitnya.
Keputusan mendapatkan second opinion membawa kami kembali ke Yayasan Kanker dua hari kemudian dengan membawa hasil lab. Bertemu dan mendapat penjelasan dari Dr. Jetty mengenai penyakit yang diderita Tya membuat perasaannya cooling down. Dengan gaya bicara yang lemah lembut namun tegas, Dr. Jetty menyampaikan bahwa beliau belum bisa memastikan penyakit Tya ganas atau tidak. Tapi diagnosis sementara merujuk pada hasil lab bahwa penyakit yang diderita Tya adalah mastitis non spesific dengan benjolan berdiameter 3 cm. Beliau memberikan resep berupa antibiotik yang harus diminum sehari tiga kali selama lima hari. Terlihat sekali mendung di wajah Tya mulai bergeser.

Ada sedikit kelegaan setelah mendengar penjelasan Dokter Jetty.
Lima hari minum antibiotik, radang di payudara kanan Tya mulai membaik (mengecil). Rasa nyeri juga sudah jauh berkurang. Kami kembali untuk kontrol ke Yayasan Kanker. Kabar baik kami dengar dari Dokter Jetty. Beliau merasa optimis bahwa Tya akan baik-baik saja. Resep selanjutnya untuk Tya adalah antibiotik tambahan selama 3 hari dan multivitamin untuk 30 hari.

Rasa optimis tergambar jelas dari raut wajah Tya. Meski sebenarnya ia sudah ikhlas atas penyakit yang dideritanya dan siap terhadap kemungkinan terburuk sekalipun.
Sebulan berlalu. Vitamin sudah habis dikonsumsi. Kondisi Tya sudah sangat baik. Benjolan sudah jauh mengecil. Rasa nyeri sudah hilang sama sekali. Tadi pagi kami berangkat ke Yayasan Kanker untuk kontrol. Dokter Jetty kembali menyampaikan kabar baik. Menurut beliau Tya sudah jauh membaik. Beliau juga berani memastikan bahwa penyakit yang diderita Tya bukanlah kanker, melainkan mastitis seperti yang didiagnosa semula berdasarkan hasil tes FNA. Dokter Jetty memberikan resep lagi berupa multivitamin dan vitamin E untuk 30 hari. Legalah kami berdua. Payudara kanan Tya selamat dari upaya biopsi yang sebenarnya tidak perlu.

Banyak sekali hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman Tya ini. Hikmah terbesar adalah keputusan mencari second opinion. Bisa dibayangkan bagaimana nasib payudara Tya bila ia setuju menjalankan biopsi yang tidak perlu.  Hikmah berikutnya, adalah berpikir jernih, logis, dan tidak terburu nafsu sehingga keputusan yang diambil benar-benar melalui pemikiran yang matang. Yang ketiga, mencari informasi sebanyak-banyaknya, baik dari internet maupun dari kisah-kisah tentang kanker payudara dari teman dan kerabat. Dan yang terakhir, berusaha sekuat tenaga agar ikhlas dan tenang, meskipun sulit.

Kitalah yang seharusnya mengendalikan penyakit, bukan sebaliknya. Berpikir positif dan tenang akan sangat membantu penyembuhan penyakit.
Sebenarnya Tya juga sudah menyiapkan third opinion bila memang penyakitnya belum membaik. Tapi ternyata second opinion saja sudah cukup. Alhamdulillah..

Memang, dokter juga manusia. Hanya saja saya punya sedikit saran untuk para dokter: sebaiknya berhati-hati dalam menyampaikan penyakit, seburuk apapun kondisi penyakitnya. Bila dokter terlalu keras dalam gaya berbicara terhadap pasien, apalagi sampai menunjukkan foto-foto yang mengerikan, siapapun pasiennya, pasti akan ketakutan dan stress. Bukankah stress akan memperparah kondisi penyakit pasien?
Sebaiknya pasien tidak hanya mempertimbangkan pendapat satu dokter saja untuk penyakit-penyakit yang cukup berat dan memerlukan tindakan operasi. Karena terbukti, second opinion telah menyelamatkan payudara kanan Tya.
Buat rekan kompasianers…
Mohon do’anya agar Tya bisa sembuh total ya.. Makasih.. :)

Source : Kompasiana

RizcaFitria

Facilitating Learning

Personal Investment Trainer

Life, Business & Future Investment

Jejak-jejak yang Terserak

If Better is Possible, Good is Not Enough

Wordpress of Muchopick

Kumpulan artikel yang unik, cantik dan menarik.

RUMAHKU SURGAKU

Aktivitas Hidupku...........

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.